Tionghoa Dungkek Dan Pulau Madura

Standard

Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan

Makna Kubur Berbentuk Perahu

Ardian Cangianto

ABSTRAK

            Kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara sudah berlangsung selama ribuan tahun lamanya dan hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan Nusantara dicatat pertama kali dalam “Kronik Han”. Dengan adanya catatan itu menunjukkan berlangsungnya arus migrasi baik dari Nusantara maupun dari Tiongkok. Continue reading

Uang & Perspektif Budaya -Filsafat Tionghoa – Part II

Standard

Ekonomi menopang dan menghancurkan kekuasaan

Jizi 箕子 (± 1100 BCE) saat ditanya oleh raja Zhou Wuwang mengenai perdagangan, dijawab bahwa ada delapan urusan pemerintah, antara lain yang pertama adalah makanan dan yang kedua adalah komoditi (barang dagangan)[1]. Barang dagangan yang dimaksud adalah barang produksi pertanian maupun peternakan, misalnya sutra, kulit binatang, keranjang ayaman dan sebagainya.

Ini menunjukkan bahwa perekonomian adalah hal yang amat penting dalam mengatur negara. Pemikiran Jizi ini ditambahkan oleh Kongzi bahwa semua yang bersifat profit atau keuntungan harus bersifat adil. Jika tidak ada keadilan dalam mengejar keuntungan maka yang timbul adalah amarah. Negara dalam hal ini memegang peranan penting dalam mengatur keadilan itu. Kongzi sendiri menyatakan bahwa “ semua tindakan yang mengutamakan profit akan menimbulkan dendam” ( 放于利而行多怨). Agar tidak terjadi pergesekan antara kalangan kelas atas dengan kelas bawah, maka perlu adanya suatu system keadilan dalam meraih keuntungan. Pemikiran ini dapat dilihat dari pemikiran Kongzi tentang konsep keuntungan dan peranan pemimpin yang harus adil[2]. Peranan ekonomi dalam menstabilkan negara dan menjaga ketertiban umum dapat dilihat dari pepatah bahwa “rakyat yang terutama bagi  yang menjadi raja ( pimpinan ), makanan yang terutama bagi rakyat” ( 王者以民為天 民以食為天 )[3].

Continue reading

Pernikahan Dalam Tradisi Tionghoa – Part 1

Standard

Kelahiran, pernikahan dan kematian itu adalah tiga hal penting dalam kehidupan manusia dan tentunya dalam budaya Tionghoa juga menjadikan ketiga hal itu amat penting bahkan sacral. Umumnya kelahiran dan pernikahan disebut peristiwa merah 紅事 dan kematian disebut peristiwa putih. Merah dan putih ini dalam pengertian kosmologi Tionghoa kurang lebih adalah yang merah itu bermakna dinamis, gerak sedangkan putih itu bermakna kematian, kaku. Dan dalam kosmologi lima unsur dan arah, merah itu adalah selatan, api; sedangkan putih itu adalah barat, logam. Jadi tidak perlu heran jika dalam banyak hal yang terkait dengan kebahagiaan itu orang Tionghoa menggunakan warna merah termasuk upacara pernikahan.

Continue reading