Photo Ilustrasi : Sinophone World , Ross – Wikimedia
Bahasa Tionghoa (Hua Yu) yang kita kenal sebenarnya adalah bahasa Han (Han Yu). Selain itu, bahasa Han juga dikenal dengan sebutan bahasa nasional (Guo Yu), bahasa China (Chung Wen).
Photo Ilustrasi : Sinophone World , Ross – Wikimedia
Bahasa Tionghoa (Hua Yu) yang kita kenal sebenarnya adalah bahasa Han (Han Yu). Selain itu, bahasa Han juga dikenal dengan sebutan bahasa nasional (Guo Yu), bahasa China (Chung Wen).
Tiociu: Peq; Hakka: Phak; Konghu: Pak
Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Peh, Pek, Pee
Pusat leluhur: Nanyang 南阳
(Sekarang di propinsi Henan 河南)
Nomor urut pada Tabel Utama: 4
Nomor urut pada Baijiaxing: 267
Catatan mengenai leluhur orang sne Bai [Peq]白 ini banyak, perhatikan di bawah ini:
Orang Tionghoa mengenal pepatah “uang bukan serba bisa tapi tanpa uang berlaksa hal tidak bisa ( dikerjakan)” ( 錢不是萬能 沒錢萬萬不能 ). Jaman sekarang, masyarakat sudah terlalu mengagungkan materi. Segala sesuatu yang ada memiliki nilai sehingga seolah-olah tanpa uang tidak bisa hidup.
Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan
Makna Kubur Berbentuk Perahu
Ardian Cangianto
ABSTRAK
Kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara sudah berlangsung selama ribuan tahun lamanya dan hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan Nusantara dicatat pertama kali dalam “Kronik Han”. Dengan adanya catatan itu menunjukkan berlangsungnya arus migrasi baik dari Nusantara maupun dari Tiongkok. Continue reading
Tionghua.Org | Liang Shanbo dan Zhu Yingtai (Pinyin) atau di Indonesia orang lebih mengenalnya sebagai Sam Pek – Eng Tay adalah kisah cinta legendaris yang berlatar jaman Jin Timur (265-420 CE). Kisah ini termasuk dalam 4 besar kisah legenda Tiongkok, disamping Kisah Ular Putih (Baishezhuan), Si Gembala dan Gadis Penenun (Niulang Zhinu), dan Meng Jiangnu yang meratap di Tembok Besar. Continue reading
Ekonomi menopang dan menghancurkan kekuasaan
Jizi 箕子 (± 1100 BCE) saat ditanya oleh raja Zhou Wuwang mengenai perdagangan, dijawab bahwa ada delapan urusan pemerintah, antara lain yang pertama adalah makanan dan yang kedua adalah komoditi (barang dagangan)[1]. Barang dagangan yang dimaksud adalah barang produksi pertanian maupun peternakan, misalnya sutra, kulit binatang, keranjang ayaman dan sebagainya.
Ini menunjukkan bahwa perekonomian adalah hal yang amat penting dalam mengatur negara. Pemikiran Jizi ini ditambahkan oleh Kongzi bahwa semua yang bersifat profit atau keuntungan harus bersifat adil. Jika tidak ada keadilan dalam mengejar keuntungan maka yang timbul adalah amarah. Negara dalam hal ini memegang peranan penting dalam mengatur keadilan itu. Kongzi sendiri menyatakan bahwa “ semua tindakan yang mengutamakan profit akan menimbulkan dendam” ( 放于利而行多怨). Agar tidak terjadi pergesekan antara kalangan kelas atas dengan kelas bawah, maka perlu adanya suatu system keadilan dalam meraih keuntungan. Pemikiran ini dapat dilihat dari pemikiran Kongzi tentang konsep keuntungan dan peranan pemimpin yang harus adil[2]. Peranan ekonomi dalam menstabilkan negara dan menjaga ketertiban umum dapat dilihat dari pepatah bahwa “rakyat yang terutama bagi yang menjadi raja ( pimpinan ), makanan yang terutama bagi rakyat” ( 王者以民為天 民以食為天 )[3].
Tionghua.Org | Dalam sebuah kesempatan seorang rekan berkata demikian: “Saya tadi kongkow dengan beberapa teman negara XYZ. Saya kasih lihat video clip Dizigui dari teman dan tanggapannya enteng ‘sudah pernah nonton. Kita juga hafal di luar otak Dizigui dan buku-buku lainnya. kita diajarkan di sekolah. Masalahnya kita tidak bisa cari makan dengan itu. Dunia di sini butuh hidup keras. Kalau kita ikutin itu, tidak bisa hidup. Cuma orang-orang seperti kamu yang banyak waktu, yang sempet urusan dengan itu.’ Saya garuk kepala dibuatnya.”
Continue reading
Budaya-Tionghoa.Net| Siapa yang tak kenal Cinderella? Mulai dari anak-anak, orang tua, sampai bocah tua nakal pasti tidak asing lagi dengan namanya. Tapi tahukah anda, bahwa Cinderella sebenarnya adalah cerita klasik Tiongkok yg di”kw” oleh Bangsa Eropa? (Cuma dalam kasus ini versi kw nya justru jauh lebih populer dibanding originalnya)
Kelahiran, pernikahan dan kematian itu adalah tiga hal penting dalam kehidupan manusia dan tentunya dalam budaya Tionghoa juga menjadikan ketiga hal itu amat penting bahkan sacral. Umumnya kelahiran dan pernikahan disebut peristiwa merah 紅事 dan kematian disebut peristiwa putih. Merah dan putih ini dalam pengertian kosmologi Tionghoa kurang lebih adalah yang merah itu bermakna dinamis, gerak sedangkan putih itu bermakna kematian, kaku. Dan dalam kosmologi lima unsur dan arah, merah itu adalah selatan, api; sedangkan putih itu adalah barat, logam. Jadi tidak perlu heran jika dalam banyak hal yang terkait dengan kebahagiaan itu orang Tionghoa menggunakan warna merah termasuk upacara pernikahan.
Ada beberapa kisah dan makna dibalik setiap peribahasa Tiongkok yang populer . Dibawah ini diberikan beberapa contoh agar lebih mudah dipahami seperti “Orangtua di perbatasan yang kehilangan kudanya” , “bermain qin didepan sapi” , etcetera . Continue reading